Tuesday, August 13, 2013

video

Sunday, May 26, 2013

Lucunya Negeri Ini

-- Ini adalah kisah ketika aku dinas jaga malam di bahagian Internal Medicine --


Setelah berlalunya waktu-waktu krisis, aku ke arah bangku depan bangsal sambil menunggu mungkin ada pasien baru akan masuk ke ward tersebut. Jika ada pasien baru, tugas kami selaku Dokter Muda adalah anamnesis dan periksa vital sign pasien baru tersebut.

Eh, baru aku mahu beristirehat, terlihat seorang ibu berusia dalam lingkungan 60-an duduk disana sambil membelek-belek kertas dokumen rawatan, sesekali menggaru kepalanya. Aku bingkas menuju ke arahnya, mungkin beliau menginginkan penjelasan tentang sesuatu. Melihat aku berjalan ke arahnya, lantas dia bertanya,

"Anak dinas di bangsal ini ya?"
"Iya buk. Ada yang bisa saya bantu?"
"Hmm, ini nih. Ibu bingung tentang masalah obat yang diberi apoteker. Dokter ruangan tadi nulis dalam resep 4 tablet omeprazol, tapi yang diberi apoteker cuma 2 tablet. Kalau begini kapan kakak ibu sehat...?" keluh beliau sambil menunjukkan kertas dokumen pengobatan keluanrganya kepada aku.

"Oh, masalah itu. Ibu udah nanya ke apotekernya kenapa cuma diberi 2?"
"Katanya yang diberi hanya untuk malam ini, untuk yang besok harus diresepin lagi. Ibu capek juga naik-turun ke bawah ngambil obat. Kakak ibu pula sakit, gimana mau sehat kalau begini?"
"Kalau menurut ibu apotekernya yang salah ni." tambahnya lagi.

Ah, aku sudah mati akal. Manalah aku tahu masalah pengurusan begini? Kebetulan aku terlihat seorang dokter senior residen baru keluar dari ruangan pustaka. Langsung beliau berjalan ke arah kami. Mungkin beliau tahu aku ditanya tentang sesuatu yang bukan dibidangku.

"Ada apa bu?" tanya beliau ringkas. Kemudian, keluarga pasien tersebut menceritakan masalahnya kepada dokter residen tersebut sama persis seperti yang diceritakan kepadaku.

"Oh, begitu. Ya udah, besok kami akan resepkan lagi ya?"
"Tapi besok kan tanggal merah. Apotek tutup. Di mana ngambil obatnya? Kalo gitu ga makan obat kakak ibu besok..." dari nadanya, jelas menunjukkan keresahan.
"Apotek di Instalasi Gawat Darurat dibuka setiap hari, walaupun hari libur buk."
"Oh..." terpampang sebuah kelegaan pada raut wajah keluarga pasien tersebut.
 
"Ibu memakai ASKES kan?" tanya dokter untuk mendapatkan kepastian.
"Memang begitu sistemnya. Sebenarnya kami meresepkan 4 tablet itu, 1 tablet untuk malam ini, selebihnya lagi buat besok supaya pengobatannya bisa tebih teratur. Tapi kadang ada pasien yang bersikeras mau pulang-paksa, administrasi obat jadinya banyak yang rancu, makanya diberi apoteker cuma untuk malam ini." jelas beliau.

"Berarti besok harus nambil obat lagi ke bawah ya? Susah ya..?"
"Itu makanya tidak boleh sakit, buk."

"Maksud dokter?" Ibu tersebut kelihatan kaget. Sebenarnya aku juga kaget, tapi sengaja aku sembunyikan raut 'troll' tersebut.

"Anggaran jaminan asuransi kesehatan seorang pasien sebenarnya cuma sekitar Rp. 20 000 per bulan. Namun adakalanya harga 1 macam obatnya saja sudah melebihi Rp. 30 000. Jadi rumah sakit harus menanggung beban biaya berlebih tadi. Itupun selalunya suntikan dana tidak tepat waktu, dan jumlah yang dibayar ke rumah sakit kurang dari 1/3 dari total biaya. Tapi yalah nama juga rumah sakit pendidikan, harus bagaimana lagi..." jelasnya.

Ibu tersebut terdiam. Entah beliau mendengarkan atau tidak. Semoga beliau lebih mengerti tentang 1001 macam kesulitan yang dihadapi oleh sebuah rumah sakit pendidikan untuk beroperasi.

moral : edukasi pasien itu penting, walaupun nampak remeh.

Wednesday, February 27, 2013

A Hero Behind The Mask...

I'm just an observer for anesthetics and drugs introduction. I stand there to watch the procedure. It's only have been 45 minutes, but the procedure is almost over.

I need to know who's behind the mask. The way he move the needle and threads is like a musician's finger playing on a string instrument.

I can't believe he still a resident, with the skill set of a different level.

Is this what they called "Arts"?

Saturday, January 19, 2013

Flowers are ALWAYS red!

Salam 'Alaykum,


Baru-baru ni riuh dengan isu seorang mahasiswa bernama Bawani dengan presiden SW1M, Sharifah Zohra dalam sebuah program di UUM. Sebenarnya bagi saya tak patut jadi isu pun.

InshaAllah tujuan saya menulis ni bukan untuk mencemuh mana-mana pihak ataupun mengulas lebih lanjut sebab saya tidak berada di sana. Cuma saya nak ajak para pembaca menghayati sebuah lirik lagu kanak-kanak di bawah ni:



(

Ada beberapa poin yang saya rasa harus di-hightlight-kan:

1) Perkembangan Minda vs Kejumudan Pemikiran:

Tahap perkembangan minda kanak-kanak bercambah lebih cepat berbanding orang dewasa kerana neuron masih banyak dihasilkan. Setelah usia kira-kira 20 tahun, neuron sudah tidak dihasilkan lagi. Justeru yang menentukan jumud atau kritisnya minda orang dewasa tergantung pada jumlah ganglion yang ada untuk menghubungkan neuron-neuron yang masih tersisa.

Inilah sebabnya kreativiti anak-anak sangat hebat dibanding dengan orang dewasa. Dan sekiranya pada tahap perkembangan anak ini fikirannya dihambat, tak mustahil anak tersebut akan membesar dengan fikiran yang jumud juga.

2) Reasoning vs Authority

Cuba ingat kembali ketika zaman kanak-kanak dulu, pernah tak persoalan kita "kenapa mesti begini? kenapa tak boleh begitu?" terjawab? Jika "ya" dan terjawab dengan penjelasan yang mantap, bererti anda dididik oleh guru yang hebat. Tahniah! Tapi sekiranya dijawab dengan mitos/tahyul untuk tujuan menghalang, bererti nasib anda kurang beruntung. haha!

Atau bahkan lebih buruk, anda dipaksa mesti menerima tanpa bantahan/ alasan jika berhadapan dengan orang dewasa. Kononnya "you hear and you obey". Alasan yang ada hanya "sebab aku lebih dulu makan garam daripada kamu"

3) Pedagogy vs Androgogy

Kalau waktu kecil dulu, kita selalu "listen, listen, listen" dan jarang membantah sebab kita tak tahu dan bod-do. Tapi setelah berganjak dewasa, kita punya pemikiran sendiri, punya pendapat peribadi. Kita tak ikut meng-khinzir-buta (melulu) lagi.

Justeru, kita diajar dengan cara pembelajaran orang dewasa yaitu mewujudkan diskusi dua arah. Adapun kesilapan daripada si pelajar nanti adalah wajar dengan statusnya "pelajar". Disitulah terletaknya seni sang guru bagaimana menyampaikan secara berhikmah.

Kesimpulan:

Kita semua adalah pendidik, tanggungjawab itu bukan hanya beban guru. Kita yang mencorakkan generasi akan datang dengan menjadi role model yang baik. Guru yang hebat bukan saja mengajar anak didiknya menjadi pandai, tapi mendidik mereka bagaimana menjadi seorang pemimpin kelak.


p/s: minta maaf sekiranya bahasa yang digunakan agak aneh.. hehe